Rokok...hmmm, apa sih artinya benda itu? Menurut saya rokok adalah realisasi dari setan (atau apalah) yang merusak manusia, baik secara biologis maupun psikis. Di dalam tulisan kali ini saya tidak akan membahas pengaruh rokok bagi biologis manusia, karena hal itu telah sering kali terengar dan efeknya sama saja...dicuekin!!!
Yang pertama kali ingin saya bahas soal konsekuensi pemerintah dalam hal rokok. Beberapa waktu lalu MUI nyaris saja men-cap rokok sebagai barang haram, tapi hal itu batal. Bagaimana tidak, lha wong orang-orang MUI-nya saja sendiri masih pada merokok. Jadi untuk menyamarkannya, pemerintah mencantumkan "himbauan" di setiap bungkus rokok. Dan pemerintah juga membuat aturan (undang-undang atau apalah...) bagi para penjual rokok untuk tidak melayani pembelian rokok oleh orang di bawah 18 tahun.
18 tahun? Mengapa harus 18 tahun? Jika pemerintah mencantumkan angka 18 sebagai acuan untuk usia produktif, berarti...hmmm?! Padahal masih banyak orang-orang usia di atas 18 tahun yang belum produktif, dan masih saja mengandalkan duit pasokan pihak lain untuk membeli barang tidak baik tersebut (kalau tidak mau disebut haram).
Mungkin bagi orang-orang semacam ini, makan tidak terlalu penting asal ada rokok dan kopi.
Coba Anda (pemerintah) lihat kembali, apakah gaya hidup seperti ini sehat? Kalau tidak salah, pemerintah juga bekerja untuk membuat rakyatnya sehat...benar tidak? (Kalau ada yang menganggap salah, tolong lihat lagi fungsi dari Departemen Kesehatan) Atau, pemerintah memang sengaja membuat rakyatnya sakit sehingga ada dana di kas pemerintah (dan kas orang-orangnya) untuk menanggulangi masalah kesehatan.
Dilihat dari segi ekonomi lain, memang banyak rakyat kecil yang menggantungkan harapannya dari produksi rokok. Salah satunya pasti para pekerja di pabrik rokok. Salah duanya (?) yaitu para penjaja rokok, baik pedagang asongan ataupun pemilik warung. Untuk hal yang satu ini, saya ingin menceritakan tentang balada kios rokok di Sukabumi.
Begini ceritanya, ada satu kios rokok/warung di dekat tempat saya tinggal. Sang pemilik warung berkali-kali mengeluh kepada saya soal usahanya itu. Dan yang saya dengar, melulu keluhan tentang para pembeli...uhm, penghutang rokok yang datang ke warungnya. Pernah suatu hari sang pemilik warung tersebut disemprot sama tetangganya karena suami sang tetangga itu terus-terusan ngutang rokok, dan ketika hendak dibayar jumlahnya telah mencapai Rp 70.000-an. Hal ini terus saja berulang. Dari anak SMA (yang masih di bawah 18 tahun), sampai ke orang dewasa tanpa penghasilan dibiarkannya berhutang hingga jumlahnya puluhan ribu. Padahal katanya lagi, untung dari berjualan rokok tidak seberapa. Tapi, jika terus-terusan dihutangi, dan belum dibayar, dia tidak punya modal lagi untuk memutarkan uang dan mengais rejeki. On My Gosh, kasian banget ya?
Secara tidak langsung saya pun terkena imbas efek negatif rokok. Terus terang, kakak perempuan saya seorang rokok-holic. Dia bahkan tega menyajikan nasi putih saja untuk anak-anaknya tanpa ada lauk-pauknya (yang memang sangat dibutuhkan oleh anak-anaknya yang sedang dalam masa pertumbuhan) dengan alasan, tidak punya uang untuk menyajikan lauk-pauk yang harganya terus meningkat. Yang saya tahu, dia tetap saja membeli satu bungkus rokok per hari. Jadi, harus makan nasi putih pake rokok ini teh? Mantan suaminya malah pernah bermasalah dengan saya. Uang tabungan saya (recehan pecahan 500-an) hampir ludes dijajanin rokok. (saya dapat keterangan tentang nasib 500-an saya itu dari pemilik warung yang menceritakannya kepada saya sambil cengar-cengir...padahal saya tuh sudah hampir pingsan mendengarnya!)
Cerita lain lagi. Sekarang saya bekerja di warnet yang menerima jasa pengetikan. Beberapa kali orang-orang datang kepada saya, minta tolong ketikin surat/naskah. Ada beberapa dari mereka yang menawarkan saya rokok selagi saya mengetik surat/naskah mereka. Dengan bangga saya bilang kepada mereka,"Maaf, saya tidak merokok!" Setiap sehabis saya bilang itu, mereka pasti membalasnya dengan ucapan "Wah! Bagus tuh!" sambil meneruskan niat awalnya...membuka rokok, mengambilnya sebatang, dan meminjam korek. Jadi, maksud mereka menyanjungku dg kata-kata wah-bagus-tuh hanya basa-basi? Kalau memang benar bagus menurut mereka, mengapa mereka tidak ingin hal itu terjadi pada diri mereka? Cape deh...!
Jadi, tulisan berjudul "Bahaya Rokok Bagi "Otak" Manusia" di atas bisa Anda pahami, di bagian mana otak manusia yang saya maksud?
Sabtu, 21 Februari 2009
Senin, 12 Januari 2009
Michael's Numbers
Tadinya saya mau membuat tulisan tentang Irfan Bachdim, tapi nanti takut dikira nepotisme. Nepotisme? Ya, saya dan Irfan sama-sama memakai nama belakang Bachdim...yang mana, Bachdim adalah nama keluarga/family name (marga) dari arab. Hmm...mungkin tidak akan disebut demikian jika saya adalah seorang penulis profesional (they say, "in your dream, babe!" ha-ha-ha!!!)
Udah ah becandanya! Saya menulis tentang Michael Jordan saja. Kali ini saya ingin membahas tentang nomer-nomer dada/punggung yang pernah dipakai Mike (uhm, saya panggil dia Mike biar terasa lebih dekat...ihik!). As you guess, I'm a Jordan-minded people. You goddamn right! Sewaktu SMA di Laney High School, Mike memakai nomer 23. Sebenarnya dia ingin memakai nomer 22,5 yang merupakan setengah dari nomer kakaknya, Larry (#45). Dia mendapatkan semangat berkompetisi dalam bermain basket dari kakaknya itu.
Pada Pan-Am Games tahun 1983, Mike pernah menggunakan seragam dengan nomer 5. Saya kira (masih mengira-ngira, sebab waktu itu saya belum kenal dia...sampai sekarang pun belum, dan mungkin, tidak akan pernah kenalan) dia dipanggil masuk membela tim nasional Amerika karena kehebatannya sudah terlihat. Saat itu Mike masih duduk di bangku kuliah dan membela tim North Carolina dengan menggunakan nomer 23. Lho, kok jadi nomer 5? Menurut peraturan FIBA, tim-tim negara yang bertanding di ajang internasional diwajibkan menggunakan seragam mulai dari nomer 4 (kalo ga' salah) sampai nomer 15. Sampai sekarang saya masih belum menemukan jawabannya, nomer 1 sampai 3 siapa yang pakai? Mungkin nomer ini diberikan kepada pelatih dan dua orang asistennya. Sebelum saya mengerti benar tentang peraturan ini, FIBA telah merubahnya. Thank God, they'd changed this silly rule.
Sepanjang bermain basket untuk University of North Carolina, Mike setia memakai nomer 23. Karir cemerlangnya dimulai sejak dia masih sebagai freshman (tahun pertama). Mike mengantarkan UNC Tar Heels meraih juara NCAA dengan mengalahkan Georgetown Hoyas dan Patrick Ewing-nya. Pada photo di samping, kebetulan saya memasang photo Mike tengah melakukan game-winning jump shot tahun 1982 ketika melawan Georgetown Hoyas di final.
Sejak memasuki NBA tahun 1984, Mike senantiasa menggunakan nomer 23...seperti yang kita tahu sekarang. Tetapi ada beberapa pengecualian. Yang pertama yaitu pada tahun 1990, ketika bertandang ke Orlando untuk melawan Orlando Magic. Sebelum tip-off, ada yang mencuri seragam Mike di locker room. Sialnya, tim Bulls tidak membawa kaos cadangan! Jadi untuk pertandingan tersebut Mike terpaksa memakai seragam dengan nomer 12. Dan sejak itu Bulls selalu membawa seragam cadangan Jordan #23 lebih banyak dari biasanya.

Di tahun 1992, Mike ikut membela Dream Team pada Olimpiade Barcelona.Mike kembali memakai seragam dengan nomer dada/punggung 9. Karena telah menjadi icon Nike, Nike-pun mengeluarkan sepatu untuk Air Jordan VII edisi Olimpiade dengan mencantumkan nomer 9 di bagian belakang sepatu tersebut...bukan nomer 23 seperti yang biasanya.
O ya, Michael Jordan sempat memutuskan untuk pensiun di tahun 1993. Ketika kembali bermain untuk Chicago Bulls di tahun 1995, Mike memakai seragam dengan nomer 45. Tetapi pemakaian seragam dengan nomer 45 ini tak berlangsung lama. Satu pertandingan setelah kalah dari Orlando Magic, Mike kembali menggunakan nomer 23...nomer kebesarannya. Mungkin Mike merasa ada yang salah dengan Jordan #45 karena dia yang menyebabkan kekalahan dari Magic, ketika bola yang sedang di-dribble-nya berhasil di-intercept oleh Nick Anderson...lalu Magic berhasil mengkonversinya menjadi angka bagi mereka di detik-detik akhir yang memenangkan Magic. Biar bagaimanapun, dengan raihan 26,9 points per game (dan skor tertinggi sebanyak 55 points) pada 17 pertandingan yang dia mainkan di sisa musim 1994-1995, Mike tetap bisa dibilang hebat...untuk ukuran pendatang/rookie (sorry, Mike!)

Segini aja dulu deh! Mungkin lain kali, saya akan menulis perjalanan karir seorang Michael Jordan. Atau Irfan Bachdim ya...? He-he-he...
Udah ah becandanya! Saya menulis tentang Michael Jordan saja. Kali ini saya ingin membahas tentang nomer-nomer dada/punggung yang pernah dipakai Mike (uhm, saya panggil dia Mike biar terasa lebih dekat...ihik!). As you guess, I'm a Jordan-minded people. You goddamn right! Sewaktu SMA di Laney High School, Mike memakai nomer 23. Sebenarnya dia ingin memakai nomer 22,5 yang merupakan setengah dari nomer kakaknya, Larry (#45). Dia mendapatkan semangat berkompetisi dalam bermain basket dari kakaknya itu.
Pada Pan-Am Games tahun 1983, Mike pernah menggunakan seragam dengan nomer 5. Saya kira (masih mengira-ngira, sebab waktu itu saya belum kenal dia...sampai sekarang pun belum, dan mungkin, tidak akan pernah kenalan) dia dipanggil masuk membela tim nasional Amerika karena kehebatannya sudah terlihat. Saat itu Mike masih duduk di bangku kuliah dan membela tim North Carolina dengan menggunakan nomer 23. Lho, kok jadi nomer 5? Menurut peraturan FIBA, tim-tim negara yang bertanding di ajang internasional diwajibkan menggunakan seragam mulai dari nomer 4 (kalo ga' salah) sampai nomer 15. Sampai sekarang saya masih belum menemukan jawabannya, nomer 1 sampai 3 siapa yang pakai? Mungkin nomer ini diberikan kepada pelatih dan dua orang asistennya. Sebelum saya mengerti benar tentang peraturan ini, FIBA telah merubahnya. Thank God, they'd changed this silly rule.
Sepanjang bermain basket untuk University of North Carolina, Mike setia memakai nomer 23. Karir cemerlangnya dimulai sejak dia masih sebagai freshman (tahun pertama). Mike mengantarkan UNC Tar Heels meraih juara NCAA dengan mengalahkan Georgetown Hoyas dan Patrick Ewing-nya. Pada photo di samping, kebetulan saya memasang photo Mike tengah melakukan game-winning jump shot tahun 1982 ketika melawan Georgetown Hoyas di final.
Sejak memasuki NBA tahun 1984, Mike senantiasa menggunakan nomer 23...seperti yang kita tahu sekarang. Tetapi ada beberapa pengecualian. Yang pertama yaitu pada tahun 1990, ketika bertandang ke Orlando untuk melawan Orlando Magic. Sebelum tip-off, ada yang mencuri seragam Mike di locker room. Sialnya, tim Bulls tidak membawa kaos cadangan! Jadi untuk pertandingan tersebut Mike terpaksa memakai seragam dengan nomer 12. Dan sejak itu Bulls selalu membawa seragam cadangan Jordan #23 lebih banyak dari biasanya.
Di tahun 1992, Mike ikut membela Dream Team pada Olimpiade Barcelona.Mike kembali memakai seragam dengan nomer dada/punggung 9. Karena telah menjadi icon Nike, Nike-pun mengeluarkan sepatu untuk Air Jordan VII edisi Olimpiade dengan mencantumkan nomer 9 di bagian belakang sepatu tersebut...bukan nomer 23 seperti yang biasanya. O ya, Michael Jordan sempat memutuskan untuk pensiun di tahun 1993. Ketika kembali bermain untuk Chicago Bulls di tahun 1995, Mike memakai seragam dengan nomer 45. Tetapi pemakaian seragam dengan nomer 45 ini tak berlangsung lama. Satu pertandingan setelah kalah dari Orlando Magic, Mike kembali menggunakan nomer 23...nomer kebesarannya. Mungkin Mike merasa ada yang salah dengan Jordan #45 karena dia yang menyebabkan kekalahan dari Magic, ketika bola yang sedang di-dribble-nya berhasil di-intercept oleh Nick Anderson...lalu Magic berhasil mengkonversinya menjadi angka bagi mereka di detik-detik akhir yang memenangkan Magic. Biar bagaimanapun, dengan raihan 26,9 points per game (dan skor tertinggi sebanyak 55 points) pada 17 pertandingan yang dia mainkan di sisa musim 1994-1995, Mike tetap bisa dibilang hebat...untuk ukuran pendatang/rookie (sorry, Mike!)

Segini aja dulu deh! Mungkin lain kali, saya akan menulis perjalanan karir seorang Michael Jordan. Atau Irfan Bachdim ya...? He-he-he...
Senin, 22 Desember 2008
English
A. Present Tense
1. Present Simple Tense
Bentuk sederhana
S + Verb 1 + O
I kick a ball.
S + to be + Adj.
I am sick.
2. Present Continuous Tense
Sekarang sedang dilakukan
S + to be + -ing + Verb 1
I am kicking a ball.
S + to be + being + Adj.
I am being ill.
3. Present Perfect Tense
Telah dilakukan, tetapi belum mencapai waktu yang lampau
S + has/have + Verb 3 + O
I have done the homework.
S + has/have + been + Adj.
She has been ill (for three days).
been = bentuk ke-3 dari to be
4. Present Perfect Continuous Tense
Telad dan sedang dilakukan
S + has/have + been + Verb 1 + -ing + O
I have been kicking the ball.
S + has/have + been + being + Adj.
She has been being ill (for three days).
B. Past tense
1. Past Simple Tense
Bentuk sederhana
S + Verb 2 + O
I kicked the ball (yesterday).
S + was/were + Adj.
I was sick.
2. Past Continuous Tense
Bentuk lampau; dan pada waktu yang ditunjukkan oleh pernyataan kalimat, pekerjaan tersebut sedang dilakukan
S + was/were + Verb 1 + -ing + O
I was kicking the ball.
S + was/were + being + Adj.
I was being ill.
3. Past Perfect Tense
Telah dilakukan, dan dalam waktu yang lampau.
S + had + Verb 3 + O
I had kicked the ball (yesterday).
S + had + been + Adj.
She had been sick.
4. Past Perfect Continuous Tense
Telah terjadi, dan sedang terjadi dalam waktu yang lampau.
S + had + been + Verb 1 + -ing + O
I had been kicking the ball.
S + had been + being + Adj.
She had been being ill.
C. Future Tense
1. Future Simple Tense
Bentuk sederhana
S + will/shall + Verb 1 + O
I will kick the ball.
S + will/shall + be + Adj.
He will be handsome someday.
2. Future Continuous Tense
Bentuk yang sedang terjadi di waktu yang akan datang.
S + will/shall + be + Verb 1 + -ing + O
I will be kicking the ball tomorrow.
S + will/shall + be + being + Adj.
He will be being strong by the time.
3. Future Perfect Tense
Telah dilakukan di waktu yang akan terjadi.
S + will/shall + have + Verb 3 + O
I will have kicked the ball by the time tomorrow.
S + will/shall + have + been + Adj.
I will have been health next week.
4. Future Perfect Continuous Tense
Telah dan sedang terjadi di masa yang akan datang
S + will/shall + have + been + Verb 1 + -ing + O
I will have been kicking the ball tomorrow night.
S + will/shall + have + been + being + Adj.
She will have been being fat the next 9 months.
D. Future (in) Past ...maaf! saya kurang menguasai yang satu ini (lagian jarang dipaké)
1. Future Past Tense
S + would/should + Verb 1 + O
I would kick the ball.
S + would/should + be + Adj.
He would be handsome someday.
2. Future Past Continuous Tense
S + would/should + be + Verb 1 + -ing + O
I would be kicking the ball tomorrow.
S + would/should + be + being + Adj.
He would be being strong by the time.
3. Future Past Perfect Tense
S + would/should + have + Verb 3 + O
I would have kicked the ball by the time tomorrow.
S + would/should + have + been + Adj.
I would have been health next week.
4. Future Past Perfect Continuous Tense
S + would/should + have + been + Verb 1 + -ing + O
I would have been kicking the ball tomorrow night.
S + would/should + have + been + being + Adj.
She would have been being fat the next 9 months.
Future-in-past tense is an absolute-relative tense that refers to a time located in the future, relative to a contextually determined temporal reference point that itself must be located in the past relative to the moment of utterance.
Future-perfect-in-past tense is an absolute-relative tense that involves three points in time in the past. The tense refers to a time that is in the future, relative to another point in the past, but is in the past relative to a point in its future. All these points in time are in the past relative to the moment of utterance.
• future perfect tense: by some time in the future, before some time in the future
• future-in-future tense: at some time in the future, will still be in the future
• future-in-past tense: at some time in the past, will be in the future
• future-perfect-in-past tense: by some time which is in the future of some time in the past, e.g., Sally went to work; by the time she should be home, the burglary would have been completed.
• past perfect tense: at some time in the past, was already in the past
There are nine modal verbs: can, could, may, might, shall, should, will, would, and must.
Kata kerja yang mengikuti modal selalu dalam bentuk pertama (Verb 1)
Bentuk Passive: be + Verb 3
Kata kerja yang mengikuti has/have (=telah) adalah kata kerja bentuk ketiga (Verb 3)
Adjective (kata sifat) selalu diawali dengan to be
Kata kerja yang mengikuti to selalu dalam bentuk pertama
Selalu perhatikan penggunaan being dan Adj. (kata sifat), terutama untuk kalimat berbentuk “Perfect Continous” (!)
Perbedaan will dengan to be + going to:
- will telah pasti terjadi
- to be + going to masih belum bisa dipastikan
1. Present Simple Tense
Bentuk sederhana
S + Verb 1 + O
I kick a ball.
S + to be + Adj.
I am sick.
2. Present Continuous Tense
Sekarang sedang dilakukan
S + to be + -ing + Verb 1
I am kicking a ball.
S + to be + being + Adj.
I am being ill.
3. Present Perfect Tense
Telah dilakukan, tetapi belum mencapai waktu yang lampau
S + has/have + Verb 3 + O
I have done the homework.
S + has/have + been + Adj.
She has been ill (for three days).
been = bentuk ke-3 dari to be
4. Present Perfect Continuous Tense
Telad dan sedang dilakukan
S + has/have + been + Verb 1 + -ing + O
I have been kicking the ball.
S + has/have + been + being + Adj.
She has been being ill (for three days).
B. Past tense
1. Past Simple Tense
Bentuk sederhana
S + Verb 2 + O
I kicked the ball (yesterday).
S + was/were + Adj.
I was sick.
2. Past Continuous Tense
Bentuk lampau; dan pada waktu yang ditunjukkan oleh pernyataan kalimat, pekerjaan tersebut sedang dilakukan
S + was/were + Verb 1 + -ing + O
I was kicking the ball.
S + was/were + being + Adj.
I was being ill.
3. Past Perfect Tense
Telah dilakukan, dan dalam waktu yang lampau.
S + had + Verb 3 + O
I had kicked the ball (yesterday).
S + had + been + Adj.
She had been sick.
4. Past Perfect Continuous Tense
Telah terjadi, dan sedang terjadi dalam waktu yang lampau.
S + had + been + Verb 1 + -ing + O
I had been kicking the ball.
S + had been + being + Adj.
She had been being ill.
C. Future Tense
1. Future Simple Tense
Bentuk sederhana
S + will/shall + Verb 1 + O
I will kick the ball.
S + will/shall + be + Adj.
He will be handsome someday.
2. Future Continuous Tense
Bentuk yang sedang terjadi di waktu yang akan datang.
S + will/shall + be + Verb 1 + -ing + O
I will be kicking the ball tomorrow.
S + will/shall + be + being + Adj.
He will be being strong by the time.
3. Future Perfect Tense
Telah dilakukan di waktu yang akan terjadi.
S + will/shall + have + Verb 3 + O
I will have kicked the ball by the time tomorrow.
S + will/shall + have + been + Adj.
I will have been health next week.
4. Future Perfect Continuous Tense
Telah dan sedang terjadi di masa yang akan datang
S + will/shall + have + been + Verb 1 + -ing + O
I will have been kicking the ball tomorrow night.
S + will/shall + have + been + being + Adj.
She will have been being fat the next 9 months.
D. Future (in) Past ...maaf! saya kurang menguasai yang satu ini (lagian jarang dipaké)
1. Future Past Tense
S + would/should + Verb 1 + O
I would kick the ball.
S + would/should + be + Adj.
He would be handsome someday.
2. Future Past Continuous Tense
S + would/should + be + Verb 1 + -ing + O
I would be kicking the ball tomorrow.
S + would/should + be + being + Adj.
He would be being strong by the time.
3. Future Past Perfect Tense
S + would/should + have + Verb 3 + O
I would have kicked the ball by the time tomorrow.
S + would/should + have + been + Adj.
I would have been health next week.
4. Future Past Perfect Continuous Tense
S + would/should + have + been + Verb 1 + -ing + O
I would have been kicking the ball tomorrow night.
S + would/should + have + been + being + Adj.
She would have been being fat the next 9 months.
Future-in-past tense is an absolute-relative tense that refers to a time located in the future, relative to a contextually determined temporal reference point that itself must be located in the past relative to the moment of utterance.
Future-perfect-in-past tense is an absolute-relative tense that involves three points in time in the past. The tense refers to a time that is in the future, relative to another point in the past, but is in the past relative to a point in its future. All these points in time are in the past relative to the moment of utterance.
• future perfect tense: by some time in the future, before some time in the future
• future-in-future tense: at some time in the future, will still be in the future
• future-in-past tense: at some time in the past, will be in the future
• future-perfect-in-past tense: by some time which is in the future of some time in the past, e.g., Sally went to work; by the time she should be home, the burglary would have been completed.
• past perfect tense: at some time in the past, was already in the past
There are nine modal verbs: can, could, may, might, shall, should, will, would, and must.
Kata kerja yang mengikuti modal selalu dalam bentuk pertama (Verb 1)
Bentuk Passive: be + Verb 3
Kata kerja yang mengikuti has/have (=telah) adalah kata kerja bentuk ketiga (Verb 3)
Adjective (kata sifat) selalu diawali dengan to be
Kata kerja yang mengikuti to selalu dalam bentuk pertama
Selalu perhatikan penggunaan being dan Adj. (kata sifat), terutama untuk kalimat berbentuk “Perfect Continous” (!)
Perbedaan will dengan to be + going to:
- will telah pasti terjadi
- to be + going to masih belum bisa dipastikan
Kamis, 11 Desember 2008
Angkutan Darat Bandung-Sukabumi
Entah kenapa, tulisan tentang angkutan darat (bis) Bandung-Sukabumi-lah yang pengen saya terbitin. Mungkin karena selama kurang lebih 2 bulan belakangan ini saya akrab dengan bis-bis jurusan Bandung-Sukabumi...tapi sumpah, saya 'gak kenal satu pun supir atau keneknya! Mungkin akan lebih baik bagi perusahaan jasa angkutan tersebut menggunakan icon-icon...uhm, celebrity untuk menambah daya tarik konsumen menaiki bis-bis mereka. Kaya'nya sih he-eh, daripada para sekuter (selebritis kurang terkenal) itu mencari ketenaran dengan cara menyanyi atau apalah yang jelas-jelas tidak sesuai dengan 'keahlian' mereka. Contohnya: artis 'A'...dia jadi artis sinetron karena wajah cantiknya. Mungkin ada sedikit nepotisme, tapi itu ga' masalah, karena memang wajah yang cantik menjadi modal utama untuk muncul di layar kaca. Soal kemampuan akting, hal itu bisa diperdalam sambil terus berkiprah di layar kaca...bahasa kerennya, learning by doing. Tapi, alih-alih belajar akting, dia malah muncul juga di bidang tarik suara. Padahal, suaranya enggak begitu enak didengar (terima kasih untuk para pencipta lagu jempolan, yang membuat rakyat Indonesia terbuai dengan lagu-lagunya...walaupun kualitas suara sang penyanyi sangat pas-pasan). Nah, daripada merusak telinga dan otak masyarakat dengan suara-suara yang dibagus-bagusin...mendingan para artis yang aji mumpung tadi nongol di bis-bis untuk menarik minat calon penumpang menaiki bis tersebut. Bagaimana jika Shah Rukh Khan didaulat menjadi supir bis Damri, biar para penumpang jadi betah sepanjang perjalanan! He-he-he...!
Waduh...kok jadi ngomongin itu ya? Maaf-maaf...
Soal perjalanan darat menggunakan bis Bandung-Sukabumi, ada beberapa perusahaan bis yang ingin saya ulas. Untuk perusahaan-perusahaan bis tersebut, mungkin tulisan ini bisa dijadikan acuan untuk memperbaiki kinerja kalian...khususnya dalam melayani penumpang dengan lebih baik. Jangan tersinggung ya kawan...!
1. Sangkuriang
Awal-awalnya saya cukup nyaman menumpang bis tersebut, karena Sang Kuriang dapat membuat penumpang tidak menghiraukan jenuhnya perjalanan Bandung-Sukabumi. Di beberapa area pemandangan terasa tidak enak dilihat. Terutama di daerah Cipatat (kalau tidak salah), di mana bukit dipangkas untuk diambil kapurnya. Saya tidak tahu dengan pendapat kalian mengenai pemandangan ini, tapi saya merasa miris dengan pemandangan seperti ini.
Sangkuriang, dengan corak warna merah-abu-abu yang terlihat sangar tapi anggun, dapat membawa penumpang menempuh jarak Bandung-Sukabumi dengan waktu sekitar 3 jam. Hmm...not bad!
Untuk urusan keamanan, saya menganjurkan kepada perusahaan bis untuk lebih membuat para penumpangnya aman dan nyaman...bukan hanya nyaman. Pada armada mereka, bangku penumpangnya cukup nyaman dan terasa nikmat bagi para penumpang untuk tidur sejenak di dalam bis...terutama bagi para penumpang yang membutuhkan stamina yang cukup fit, setelah telephone-telephonan semalaman (kali ini saya belum mau menyinggung jasa perusahaan -perusahaan telekomunikasi yang memurahkan tarif di malam hari..maksud saya MALAM hari). Kembali lagi ke bangku-bangku penumpang yang nyaman milik Sangkuriang, saya mengusulkan bagaimana jika di antara kaca bis dengan bangku dipasangi spons atau sejenisnya. Bukan cuma list aluminium untuk mempercantik saja. Soalnya begini...bagaimana jika penumpang terlelap, lalu secara tidak sadar kepalanya menghantam list aluminium yang cukup tajam tersebut? Dan jika mereka sampai terluka, bukan hanya memar, yang saya tahu di dalam bis tersebut juga tidak menyediakan kotak P3K.
Oia...masih soal kenyamanan penumpang, di dalam bis tersebut dipasang televisi. Tetapi sayangnya, penumpang tidak kuasa merubah channel-nya. Seolah-olah, televisi tersebut hanya untuk kenyamanan para crew bis. Saya beranggapan demikian karena pada malam itu, saya ingin sekali menonton pertandingan sepakbola Indonesia-Singapura yang disiarkan RCTI. Ketika saya memohon (sampai 2 kali!) kepada sang kondektur untuk merubah channel-nya, dia hanya diam saja seolah tak menghiraukan saya. Yang disetel hanyalah sinetron, yang saya perhatikan...tidak ada satu penumpang pun yang menghiraukan sinetron kacangan tersebut! Sedikit kesal sih, tapi untungnya hari itu berlangsung sangat-sangat-sangat baik dan membuat saya melupakan pertandingan sepakbola. Atau mungkin, Allah menjaga perasaan saya. Dan perasaan hebat yang saya rasakan tidak tercemar dengan hasil buruk yang diraih tim nasional sepakbola Indonesia. Thank God!
2. MGI
Sampai detik ini saya belum tahu MGI itu singkatan dari apa? Soalnya tulisan yang terdapat di bawahnya adalah "Sarana Tranportasi..." (kalau tidak salah), yang jelas-jelas bukan kepanjangan dari MGI. Bahkan, i don't even know how to spell it? Is it em-ji-ai, atau em-ge-i?
Untuk pelayanannya, suatu waktu saya diberi segelas plastik Aqua ketika sedang dalam perjalanan. Wow! Mungkin cuma Aqua yang harganya berkisar antara Rp 500, tapi kesannya cukup baik. Mereka tahu cara memanjakan para penumpangnya.
Bahkan mereka dapat membawa penumpang Bandung-Sukabumi dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam. Setengah jam merupakan waktu yang cukup baik bagi mereka yang sedang dalam perjalanan bisnis, dan memerlukan waktu yang lebih banyak sebagai persiapan kelancaran bisnis mereka. Keep up the good work, Pal!
3. Maya Raya
Waduh...ini bis AC terparah yang saya tahu. Mereka memang menggunakan fasilitas AC, tetapi mereka tidak melayani penumpang layaknya bis-bis AC dari perusahaan lain. Maya Raya tetap saja menaiki penumpang, padahal semua bangku telah terisi. Saya sering melihat gejala ini, pada MetroMini di Jakarta! Sang kondektur terus saja berteriak "kosong...kosong..!" padahal penumpang sudah berdesakan dan saling bertukar aroma tubuh. Pertukaran aroma tubuh yang saya maksud di sini, bukan pertukaran aroma antara parfume Hugo Boss dengan CK...melainkan Axe dengan aroma ikan asin! My Gosh...!
Saya tidak merasa heran sekarang mengapa tarif bis Maya Raya lebih murah dibandingkan tarif bis Sangkuriang atau MGI kalau begini caranya.
Kelebihannya, trayek bis ini adalah Sukabumi-Cirebon. Mungkin hal ini lebih baik bagi mereka yang ingin sampai ke tengah kota Bandung, bukan di pinggiran kota Bandung (Leuwi Panjang). Sewaktu memasuki kota kembang bis ini masuk dari arah tol Pasteur bukan di pintu tol Holis seperti bis-bis lain yang memasuki terminal Leuwi Panjang.
4. Bis non AC...untuk kali ini saya mengambil sample pada Langgeng Jaya
Bagi Anda yang ingin segera mencapai kota Bandung (atau Sukabumi), pilihan terbaik adalah bis yang berangkat paling pagi. Yang saya tahu dari pembicaraan kami, antar penumpang bis dan para pengejar waktu, bis yang berangkat di bawah jam 5 subuh tidak dikenai target setoran. Jadi jika bis itu berangkat pertama kali melakukan perjalanan, dari Sukabumi pukul 5 pagi, mereka hanya diwajibkan setor kepada perusahaan pada waktu mereka melakukan perjalanan ke-2...yaitu dari Bandung ke Sukabumi.
Betul juga, bis yang saya naiki subuh itu tetap menancap gas padahal penumpangnya hanya beberapa kepala saja. Pukul 7.30, saya sudah tiba di terminal Leuwi Panjang. untuk menikmati bubur ayam Bandung (meskipun saya kurang begitu suka dengan bubur ayam). Pilihan yang baik bagi pengejar waktu seperti saya. Waktu tempuh yang terasa singkat dmembuat saya melupakan ketidaknyamanan duduk di dalam bis tersebut. Bagaimana saya mau nyaman, jika duduk saja harus tegak (hampir) 90 derajat?! Boro-boro mau tidur...! Orang lagi enak-enaknya ngantuk, saya dikejutkan dengan para pedagang asongan yang menaruh barang dagangannya di paha saya. Kontan saja saya kaget dan tidak bisa tidur lagi. Tapi saya akhirnya sadar, memang bis ekonomi seperti itu. Ya sudahlah, yang penting waktu! Kata pepatah (atau apalah namanya), "Anda perlu waktu, kami perlu uang".
Saat ini, baru sebegitu yang bisa saya bahas. Semoga tulisan saya tersebut dapat bermanfaat bagi kalian yang ingin menempuh jarak Bandung-Sukabumi dengan tujuan apapun, baik itu bisnis, pleasure, atau apalah...! So, never missed the bus...not like those kids named Kris Kross.
Waduh...kok jadi ngomongin itu ya? Maaf-maaf...
Soal perjalanan darat menggunakan bis Bandung-Sukabumi, ada beberapa perusahaan bis yang ingin saya ulas. Untuk perusahaan-perusahaan bis tersebut, mungkin tulisan ini bisa dijadikan acuan untuk memperbaiki kinerja kalian...khususnya dalam melayani penumpang dengan lebih baik. Jangan tersinggung ya kawan...!
1. Sangkuriang
Awal-awalnya saya cukup nyaman menumpang bis tersebut, karena Sang Kuriang dapat membuat penumpang tidak menghiraukan jenuhnya perjalanan Bandung-Sukabumi. Di beberapa area pemandangan terasa tidak enak dilihat. Terutama di daerah Cipatat (kalau tidak salah), di mana bukit dipangkas untuk diambil kapurnya. Saya tidak tahu dengan pendapat kalian mengenai pemandangan ini, tapi saya merasa miris dengan pemandangan seperti ini.
Sangkuriang, dengan corak warna merah-abu-abu yang terlihat sangar tapi anggun, dapat membawa penumpang menempuh jarak Bandung-Sukabumi dengan waktu sekitar 3 jam. Hmm...not bad!
Untuk urusan keamanan, saya menganjurkan kepada perusahaan bis untuk lebih membuat para penumpangnya aman dan nyaman...bukan hanya nyaman. Pada armada mereka, bangku penumpangnya cukup nyaman dan terasa nikmat bagi para penumpang untuk tidur sejenak di dalam bis...terutama bagi para penumpang yang membutuhkan stamina yang cukup fit, setelah telephone-telephonan semalaman (kali ini saya belum mau menyinggung jasa perusahaan -perusahaan telekomunikasi yang memurahkan tarif di malam hari..maksud saya MALAM hari). Kembali lagi ke bangku-bangku penumpang yang nyaman milik Sangkuriang, saya mengusulkan bagaimana jika di antara kaca bis dengan bangku dipasangi spons atau sejenisnya. Bukan cuma list aluminium untuk mempercantik saja. Soalnya begini...bagaimana jika penumpang terlelap, lalu secara tidak sadar kepalanya menghantam list aluminium yang cukup tajam tersebut? Dan jika mereka sampai terluka, bukan hanya memar, yang saya tahu di dalam bis tersebut juga tidak menyediakan kotak P3K.
Oia...masih soal kenyamanan penumpang, di dalam bis tersebut dipasang televisi. Tetapi sayangnya, penumpang tidak kuasa merubah channel-nya. Seolah-olah, televisi tersebut hanya untuk kenyamanan para crew bis. Saya beranggapan demikian karena pada malam itu, saya ingin sekali menonton pertandingan sepakbola Indonesia-Singapura yang disiarkan RCTI. Ketika saya memohon (sampai 2 kali!) kepada sang kondektur untuk merubah channel-nya, dia hanya diam saja seolah tak menghiraukan saya. Yang disetel hanyalah sinetron, yang saya perhatikan...tidak ada satu penumpang pun yang menghiraukan sinetron kacangan tersebut! Sedikit kesal sih, tapi untungnya hari itu berlangsung sangat-sangat-sangat baik dan membuat saya melupakan pertandingan sepakbola. Atau mungkin, Allah menjaga perasaan saya. Dan perasaan hebat yang saya rasakan tidak tercemar dengan hasil buruk yang diraih tim nasional sepakbola Indonesia. Thank God!
2. MGI
Sampai detik ini saya belum tahu MGI itu singkatan dari apa? Soalnya tulisan yang terdapat di bawahnya adalah "Sarana Tranportasi..." (kalau tidak salah), yang jelas-jelas bukan kepanjangan dari MGI. Bahkan, i don't even know how to spell it? Is it em-ji-ai, atau em-ge-i?
Untuk pelayanannya, suatu waktu saya diberi segelas plastik Aqua ketika sedang dalam perjalanan. Wow! Mungkin cuma Aqua yang harganya berkisar antara Rp 500, tapi kesannya cukup baik. Mereka tahu cara memanjakan para penumpangnya.
Bahkan mereka dapat membawa penumpang Bandung-Sukabumi dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam. Setengah jam merupakan waktu yang cukup baik bagi mereka yang sedang dalam perjalanan bisnis, dan memerlukan waktu yang lebih banyak sebagai persiapan kelancaran bisnis mereka. Keep up the good work, Pal!
3. Maya Raya
Waduh...ini bis AC terparah yang saya tahu. Mereka memang menggunakan fasilitas AC, tetapi mereka tidak melayani penumpang layaknya bis-bis AC dari perusahaan lain. Maya Raya tetap saja menaiki penumpang, padahal semua bangku telah terisi. Saya sering melihat gejala ini, pada MetroMini di Jakarta! Sang kondektur terus saja berteriak "kosong...kosong..!" padahal penumpang sudah berdesakan dan saling bertukar aroma tubuh. Pertukaran aroma tubuh yang saya maksud di sini, bukan pertukaran aroma antara parfume Hugo Boss dengan CK...melainkan Axe dengan aroma ikan asin! My Gosh...!
Saya tidak merasa heran sekarang mengapa tarif bis Maya Raya lebih murah dibandingkan tarif bis Sangkuriang atau MGI kalau begini caranya.
Kelebihannya, trayek bis ini adalah Sukabumi-Cirebon. Mungkin hal ini lebih baik bagi mereka yang ingin sampai ke tengah kota Bandung, bukan di pinggiran kota Bandung (Leuwi Panjang). Sewaktu memasuki kota kembang bis ini masuk dari arah tol Pasteur bukan di pintu tol Holis seperti bis-bis lain yang memasuki terminal Leuwi Panjang.
4. Bis non AC...untuk kali ini saya mengambil sample pada Langgeng Jaya
Bagi Anda yang ingin segera mencapai kota Bandung (atau Sukabumi), pilihan terbaik adalah bis yang berangkat paling pagi. Yang saya tahu dari pembicaraan kami, antar penumpang bis dan para pengejar waktu, bis yang berangkat di bawah jam 5 subuh tidak dikenai target setoran. Jadi jika bis itu berangkat pertama kali melakukan perjalanan, dari Sukabumi pukul 5 pagi, mereka hanya diwajibkan setor kepada perusahaan pada waktu mereka melakukan perjalanan ke-2...yaitu dari Bandung ke Sukabumi.
Betul juga, bis yang saya naiki subuh itu tetap menancap gas padahal penumpangnya hanya beberapa kepala saja. Pukul 7.30, saya sudah tiba di terminal Leuwi Panjang. untuk menikmati bubur ayam Bandung (meskipun saya kurang begitu suka dengan bubur ayam). Pilihan yang baik bagi pengejar waktu seperti saya. Waktu tempuh yang terasa singkat dmembuat saya melupakan ketidaknyamanan duduk di dalam bis tersebut. Bagaimana saya mau nyaman, jika duduk saja harus tegak (hampir) 90 derajat?! Boro-boro mau tidur...! Orang lagi enak-enaknya ngantuk, saya dikejutkan dengan para pedagang asongan yang menaruh barang dagangannya di paha saya. Kontan saja saya kaget dan tidak bisa tidur lagi. Tapi saya akhirnya sadar, memang bis ekonomi seperti itu. Ya sudahlah, yang penting waktu! Kata pepatah (atau apalah namanya), "Anda perlu waktu, kami perlu uang".
Saat ini, baru sebegitu yang bisa saya bahas. Semoga tulisan saya tersebut dapat bermanfaat bagi kalian yang ingin menempuh jarak Bandung-Sukabumi dengan tujuan apapun, baik itu bisnis, pleasure, atau apalah...! So, never missed the bus...not like those kids named Kris Kross.
Langganan:
Postingan (Atom)